Panas begitu terik, seakan membakar kulit. Jumat siang, sekitar pukul 13:00, Walena Meaga, dari Distrik Hubikosi duduk di panggung berukuran sekitar satu x satu meter. Dia bersiap memainkan musik witawo. Ini bunyi mulut tanpa bantuan alat apapun.

“Ini musik tentang sepi,” begitu kata Walena soal witawo dalam bahasa Baliem. Lemeus Gombo, pemuda Baliem seksi karapan babi dan pikon langsung menerjemahkan ucapan Walena.

Usai Walena, sekelompok anak-anak juga memainkan witawo. Mereka berlima memainkan witawo menggunakan bambu. Cerita yang mereka bawa tak kalah menarik, tentang anak-anak yang ditinggal pergi orang tua dalam keadaan lapar. Kelimanya menghasilkan bunyi berbeda. Ia menjadi sangat indah terdengar ketika dipadukan.

Di sebelah mereka, mama-mama sedang menganyam noken dan bapa-bapa membuat sekan (gelang). Mereka menggunakan busana adat Lembah Baliem. Setelah itu, ada karapan babi dan tiup pikon.

Di arena festival, warga Distrik Tailarek menampilkan atraksi perang-perangan. Perang-perangan ini menceritakan, seorang perempuan sedang menggali ubi di kebun. Tak lama seorang laki-laki datang dan membawanya pergi. Aksi ini menimbulkan kemarahan suku tempat perempuan berasal. Terjadilah perang.

Mama-mama Papua sedang menganyam noken pada Festival Lembah Baliem, yang berlangsung 6-8 Agustus di Wamena, Papua. Foto: Asrida Elisabeth
Mama-mama Papua sedang menganyam noken pada Festival Lembah Baliem, yang berlangsung 6-8 Agustus di Wamena, Papua. Foto: Asrida Elisabeth

Atraksi ini memang inti Festival  Baliem. Peserta tampil bak orang-orang Baliem dulu berperang, tetapi beberapa peralatan tajam seperti panah diganti batang pion.

Khusus wisatawan manca negara, tersedia lomba panahan. Sasaran panah pohon pisang yang disediakan. Tepukan penonton riau, kala mereka berhasil memanah.

Beragam produk kerajinan khas Baliem juga dijual di stan khusus. Ada kopi, koteka, gelang, noken, sari buah merah, pigura, juga kalung.   Kerajinan-kerajinan ini diambil dari hasil alam Papua.  Namun, ada juga mama-mama berbusana adat memilih menggelar hasil karya mereka di lapangan terbuka tempat festival berlangsung.

Di bagian lain, tampak beberapa kelompok masyarakat antri menampilkan atraksi. Laki-laki dan perempuan menari-nari menggunakan musik pikon yng dimainkan beberapa pemuda. Mereka juga menari. Wisatawan juga menari bersama.

Bapa-bapa Papua, tengah menganyam gelang di Festival Lembah Baliem. Foto: Asrida Elisabeth
Bapa-bapa Papua, tengah menganyam gelang di Festival Lembah Baliem. Foto: Asrida Elisabeth

Peserta yang tampil dari 40 distrik di seluruh Kabupaten Jayawijaya, Papua. Mereka tampil dalam tiga hari festival, 6-8 Agustus 2015.

Warga antusias tampil dalam setiap atraksi yang dilombakan ini. Masing-masing memiliki tim juri. Perang, misal tiga juri yang menilai kesesuaian tema cerita dengan budaya Baliem, keaslian busana, jumlah peserta dan waktu tampil. Pun lomba panahan untuk wisatawan.

Ceqrapabriv, wisatawan dari Praque, yang baru pertama kali ke Papua dan Wamena mengatakan, festival ini unik dan sangat indah. Dia enam hari di Lembah Baliem. Tiga hari berkeliling menikmati keindahan alam Lembah Baliem, dan tiga hari menyaksikan festival.

Aries, wisatawan dari Salatiga memuji festival ini. “Festival ini bagus. Pengaturan bagus. Full dari awal sampai akhir tidak ada kosong. Juga sangat unik, tidak pernah dilihat di tempat lain.”

Namun, festival ini juga tidak luput kritik, mulai dari promosi sangat minim hingga isi kurang menonjolkan makna di balik setiap atraksi.

Aries merasa sulit mendapatkan informasi dari website resmi festival. “Informasi festival sama sekali tidak ramai. Web tidak ramai, di sosial media juga tidak. Klub fotografi malah yang mengeluarkan ini.”

Dia datang bersama beberapa wisatawan mancanegara mengaku kesulitan penginapan karena hanya satu hotel bisa diakses online.

Banyak turis yang menyaksikan festival ini. Namun, mereka ada yang mengeluhkan minimnya informasi acara. Foto: Asrida Elisabeth
Banyak turis yang menyaksikan festival ini. Namun, mereka ada yang mengeluhkan minimnya informasi acara. Foto: Asrida Elisabeth

Vero, peneliti dari Universitas Harvard mengingatkan, pemerintah yang menyelenggarakan festival budaya agar memahami dengan baik budaya masyarakat agar tidak terkesan hanya “jualan.”

Sedang Pastor Frans Lieshout, misionaris yang puluhan tahun hidup bersama orang Baliem dan menulis kamus Indonesia-Baliem Baliem-Indonesia mengatakan, festival ini lebih sebagai pamer ketelanjangan dan kehilangan makna. Festival sangat riuh hingga orang gagal menangkap makna di setiap atraksi. Frans juga menyayangkan sikap pengunjung yang tidak tertib saat mengambil gambar sehingga tidak semua bisa dengan nyaman melihat atraksi yang ditampilkan.

Festival ini memang sangat minim informasi, terutama bagaimana kaitan isi festival dengan kehidupan orang Baliem. Tidak ada stan khusus menyajikan informasi penting, misal, sejarah budaya masyarakat di Lembah Baliem, sejarah perang suku, bagaimana wam (babi) dalam sistem kepercayaan masyarakat Baliem, interaksi orang Baliem dengan dunia luar dan berbagai informasi tentang kehidupan suku-suku di lembah ini. Pengunjung hanya disuguhkan atraksi-atraksi.

Di pintu masuk festival panitia sudah menyediakan kotak saran bagi pengunjung yang ingin memberi saran.

Mama-mama Papua, yang menggelang jualan noken di sekitar festival. Foto: Asrida Elisabeth
Mama-mama Papua, yang menggelang jualan noken di sekitar festival. Foto: Asrida Elisabeth
Anak-anak muda Papua, yang memainkan musik witawo di Festival Budaya Lembah Baliem, Wamena, Papua. Foto: Asrida Elisabeth
Anak-anak muda Papua, yang memainkan musik witawo di Festival Budaya Lembah Baliem, Wamena, Papua. Foto: Asrida Elisabeth
Warga yang menanti giliran eratraksi pada Festival Budaya Lembah Baliem. Foto: Asrida Elisabeth
Warga yang menanti giliran eratraksi pada Festival Budaya Lembah Baliem. Foto: Asrida Elisabeth