Citizen Journalism

Seni Pahatan dari Suku Dani di Wamena

Wamena, Suku Dani yang mendiami Lembah Baliem di Kabupaten Jayawijaya, memiliki budaya yang unik. Karena keunikannya, Suku Dani selalu menjadi pusat perhatian wisatawan lokal dan mancanegara.

Pemkab Jayawijaya bahkan membuat Festival Budaya Lembah Baliem, untuk memperlihatkan sejumlah keunikan yang dimiliki dalam budaya Suku Dani.

Salah satu keunikan Suku Dani adalah seni pahatan. Sayangnya, seni pahatan yang dibuat oleh Suku Dani yang mendiami wilayah pegunungan tengah Papua kurang dikenal. Justru seni pahatan dari Papua lebih dikenal dari Asmat, Sentani atau daerah pesisir lainnya.

Salah satu pemahat dari Suku Dani adalah Nicolaus Haluk. Ia tinggal Kampung Siepkosi, Distrik Walelagama, Kabupaten Jayawijaya. Nicolaus merupakan perintis pemahat patung berciri khas budaya Suku Dani.

Nicolaus yang ditemui di sanggarnya berukuran 6 x 7 meter, tampak bahagia. Lokasi sanggarnya terletak sekitar 10 kilometer dari Kota Wamena, ibukota Kabupaten Jayawijaya. Ia menyambut hangat kedatangan BumiPapua.com.

Wa, wa, wa,” kata Nicolaus yang mengucapkan selamat datang dalam bahasa Suku Dani, kepada BumiPapua, sambil mempersilahkan masuk ke dalam sanggarnya.

Nicolaus dengan antusias memperlihatkan sejumlah pahatan patung yang sedang dikerjakan dan juga pahatan yang sudah jadi. Semangat Nicolaus sangat membara, walaupun ia mengerjakan karyanya di dalam sanggar yang tak layak huni.

Pria kelahiran 9 September, 59 tahun ini mulai berkisah awal mula mempelajari seni pahat yang dimulai sejak 1981.

“Model pahatan yang biasa saya buat adalah keseharian Suku Dani di Wamena, misalnya lelaki Suku Dani memaki holim atau koteka. Saya tidak pernah membuat karya dari daerah lain, karena sama saja memperkosa budaya daerah itu,” kata bapak 4 orang anak ini.

Belajar Otodidak

Sanggar Seni yang juga kediaman Nicolaus Haluk di Wamena. (BumiPapua.com/Stefanus)

Dalam mempelajari pahatan, Nicolaus mengaku tak pernah belajar di sekolah formal. Ia justru mengenal seni memahat berawal dari kekecewaannya, karena tak bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang SMA.

Nicolaus muda sempat menjadi tenaga pengajar pembantu misionaris katolik atau disebut Katekis. Namun, karena tak bisa melanjutkan pendidikan, maka ia memutuskan untuk menjadi Wene Wolok atau pewarta gereja Katolik di Siepkosi.

Nicolaus menyebutkan, saat itu dirinya juga diberhentikan sebagai tenaga honorer dari Keuskupan Jayapura. Ia sempat berfikir, bagaimana caranya bisa mendapatkan uang untuk kebutuhan hidup keluarganya.

“Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba mata saya tertuju pada batang pohon yang kayunya mirip gambar manusia. Saya bawa pulang kayu itu. Sampai di rumah, saya ambil pisau lalu saya korek sedikit-sedikit, sehingga berubah menjadi bentuk patung,” katanya.

Kata Nicolaus, sejak saat itulah ia mulai menggeluti kemampuannya memahat dengan alat seadanya, parang ataupun pisau, tanpa alat pahatan profesional.

Berbekal ketekunannya, Nicolaus menghasilkan karya pahatan pertamanya pada tahun 1992. Pahatan patung yang dibuatnya berukuran 50 cm yang langsung diberikan kepada Bupati Jayawijaya saat itu dijabat JB Wenas.

“Saya ingat, bupati memberikan uang Rp 600 ribu dan saya langsung dijadikan binaan pemerintah daerah Jayawijaya,” katanya.

Nicolaus menyebutkan berawal dari patung kecil yang dibuatnya, kini seni pahatan yang dihasilkan menjadi besar. Ia mengaku dalam sehari dapat membuat dua pahatan patung berukuran 60 cm. Jenis kayu yang dipilihnya menggunakan kayu yang biasa dibuat perahu atau ukulele.

“Saya pernah membuat patung setinggi orang dewasa dan menara pengintai melihat musuh perang. Karya ini pernah dipamerkan di depan Presiden RI Soeharto, saat kunjungannya ke Buper Waena pada 1997,” ujarnya.

Usai pertemuan itu, Presiden Soeharto lantas memerintahkan Bupati Jayawijaya untuk membawanya ke Subang, Jawa Barat guna mendalami seni pahatan.

Untuk memasarkan hasil karyanya, Nicolaus melakukannya dengan rutin dalam kegiatan Expo di Waena, mulai tahun 1992-1997. Kini, karya Nicolaus dapat dijumpai di Yayasan Oikonomos Wamena yang terletak di Jalan Gatot Subroto, depan Terminal Pesawat MAF. Karya Nicolaus berkisar ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah.

“Patung Mumi hasil pahatan saya pernah terbeli dengan harga Rp 50 juta di Jayapura,” katanya.

Bakat yang Menurun

Karya pahatan Nicolaus Haluk. (BumiPapua.com/Stefanus)

Bakat memahat yang dimiliki Nicolaus tak sia-sia. Kempat orang anaknya bahkan mengikuti jejak sang ayah yang mahir dalam memahat patung.

Kata Nicolaus, anak sulungnya saat ini telah lulus kuliah dan sedang mencari pekerjaan. Lalu anak kedua dan ketiga sempat putus sekolah, lalu anaknya yang paling bungsu masih duduk di bangku SMP.

Dirinya bersyukur sampai saat ini masih ada pembinaan dari Pemkab Jayawijaya. Bahkan Cucu Nicolaus yang bernama Siska Isaba ikut membantu menjual hasil pahatan sang kakek di Yayasan Oikonomos.

Tete (kakek) adalah orang yang baik dan perhatian. Meski saya tidak pernah belajar memahat seperti kakek, tetapi orang tua saya bisa memahat mengikuti jejak Tete,” katanya.

Titus Meaga, Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jayawijaya yang berkunjung ke sanggar Nicolaus menyebutkan seniman pahatan di Lembah Baliem bisa dijumpai di daerah Siepkosi.

“Nicolaus adalah pelopor seniman pahat. Pemerintah saat ini memberikan pembinaan kepada 3 pemahat dari Suku Dani, termasuk Nicolaus,” katanya. (Stefanus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *